Teknologi Inovatif Pengolahan Makanan Untuk Peningkatan Kapasitas Produksi Umkm Di Kabupaten Sidoarjo

Paket bakso Rp4.000, kopi jenis espreso Rp2.000, paket semangkuk nasi dan ayam Rp5.000. Salah satu jenis bidang usaha UMKM yang paling banyak diminati bahkan hingga anak muda sekalipun. Dengan sedikit inovasi di bidang makanan , marketing yang bagus dan juga modal yang cukup.

Sementara pemilik UKM MC22, Koad Chamdi menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran serta perhatian Wagub Sumut untuk melihat produksi rumahan yang ia jalankan bersama dengan belasan ibu rumah tangga. Pemprov bergandengan tangan dengan Pemkab/Pemko untuk mendorong UKM unggulan di daerahnya bisa maju. Mendorong pemasaran, seperti produk lokal di pasar fashionable dengan standar kualitas yang baik. “Semua itu akan berjalan optimal dengan dukungan dan kerlibatan aktif dari semua pihak.

Di samping itu, kampanye secara nasional, lokal dan komunitas yang well-liked dengan tagar #CintaProdukLokal, #BelanjaProdukLokal, #BelanjakeWarungTetangga dapat menjadi gerakan yang nyata melalui program voucher UMKM ini. Karena itu, pelaku usaha perlu untuk mengasah ide dan inovasi produk masing-masing. Hal mendasar yang penting dilakukan bagi usaha untuk dapat menghasilkan produk yang bersaing adalah pemilihan bahan baku. Dalam kreasi brownies misalnya, cokelat menjadi salah satu bahan baku yang menentukan kualitas brownies. Ketika memilih bahan baku produk, mungkin sebagian orang berpikir bahwa produk berkualitas baik dibuat menggunakan bahan baku dari luar atau impor.

Masalah pandemi COVID-19 tidak menghalangi kreativitas para pelaku usaha untuk mencari solusi agar usaha tetap dapat berjalan. Berdasarkan hasil data yang ada, mayoritas responden memilih untuk mencari pasar baru (23,93%). “Kemasan hasil olahan bahan makanan merupakan salah satu faktor penting yang banyak dilupakan pelaku UMKM. Padahal, kemasan itu sangat berpengaruh terhadap minat beli masyarakat, terutama untuk kalangan menengah ke atas.

Meski mayoritas responden melakukan pemasaran secara online dan offline (63,40%), hal ini tetap tidak dapat memperbaiki kegiatan usaha yang ada, karena efek pandemi yang menyeluruh dan mengakibatkan menurunnya daya beli konsumen. Usaha kecil menengah tidak wajib untuk selalu mengikuti permintaan pasar seperti layaknya perusahaan besar yang selalu mengikuti arus pertumbuhan jaman. Untuk mengembangkan usahanya, pemilik bisa menghadirkan inovasi-inovasi atau ide kreatif yang bisa diaplikasikan pada produk yang dijual. Contohnya, sebuah usaha kerajinan rumahan bisa fokus menggarap satu model atau jenis kerajinan tertentu dan cukup melayani permintaan konsumen tertentu untuk bisa mencapai laba. Kerjasama ini berupa peningkatan keterampilan dan pengetahuan pelaku usaha, layanan informasi, akses pasar, dan mediasi untuk akses modal sehingga pelaku usaha diharapkan dapat menjadi lebih kuat, mandiri dan handal.

Umkm dengan inovasi makanan

Sebisa mungkin, buatlah konsumen merasa produk kita ini aman dan enak dikonsumsi dari tampilan kemasannya. Dan yang terpenting, dengan menghadirkan data-data ini, teman-teman UKM bisa membangun personal model untuk investasi jangka panjang. Contohnya, usaha keripik Maicih, yang tadinya hanya usaha kecil, namun mampu membangun model image mereka dengan baik dari bawah dan rasanya pun enak. Produk ini sukses mengalahkan brand-brand besar dan hingga sekarang, dalam persaingan keripik lokal, Maicih masih jadi yang teratas. Selain dengan riset yang baik, Maicih juga menghadirkan data-data terpercaya. Selain itu, pengembangan juga bisa dilakukan dengan meminta orang-orang terdekat mencicipi rasa kuliner kita, dan memberitahu komentar atau kritik mereka.

Analisis area dilakukan dengan cara melihat gambaran umum perusahaan meliputi sejarah, visi misi, struktur organisasi, tujuan perusahaan, dan bentuk inovasi yang dilakukan perusahaan. Diversifikasi produk makanan adalah bentuk kreatifitas yang dilakukan dalam bentuk inovasi oleh perusahaan. Kreatifitas tersebut diperoleh dari pemikiran, gagasan, membaca buku, majalah, jalan-jalan ke luar daerah, mengikuti kursus membuat makanan, dan pelatihan yang berkaitan dengan produk makanan. Di dalam melakukan proses diversifikasi dan inovasi membutuhkan keberanian untuk memulainya dan memasarkan produknya kepada pelanggan. Pelaku usaha UMKM dituntut untuk kerja keras, berani mencoba, mengenali pasar yang dituju, mengetahui selera dan harapan konsumen. Penjualan produk akan mengalami kenaikan ketika memperoleh pesanan, hari raya agama, hari libur.

Kreativitas dan inovasi dalam mengolah keragaman hayati bahan pangan lokal , menjadi bekal bagi pelaku usaha untuk agresif merebut hati konsumen, baik di dalam negeri dan pasar mancanegara. Terlebih lagi, di masa pandemi ini, semakin banyak produk pangan olahan yang bermunculan. Ini sejalan tren pasar yang beralih dari produk makanan segar ke produk makanan minuman olahan yang dapat disimpan lebih lama. ‘’Hikmahnya kami bisa mempelajari perilaku konsumen yang berubah dan dari itu kami bisa mengatur strategi tentang bagaimana melayani mereka. Misalnya, harus belajar tentang pemasaran online yang bagi sebagian pelaku usaha kuliner ini bukan hal yang mudah.

Sri Ruwiyati menambahkan, meski dimasa Pandemi Covid-19 ini para pelaku UMKM terdampak, namun Pemerintahan Presiden Joko Widodo hadir dengan memberikan BLT UMKM atau dikenal dengan nama Bantuan Presiden Produktif. Selain itu, Pemerintah juga menerbitkan beberapa kebijakan untuk menjaga sektor perekonomian, seperti program Pemulihan Ekonomi Nasional , serta percepatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat bagi pelaku UMKM. Dengan pembukuan yang baik, Anda bisa dengan mudah memantau keseluruhan arus keuangan dan transaksi yang telah terjadi. Biaya yang dikeluarkan untuk mengenalkan produk diharapkan mendatangkan calon pembeli. Manfaatkan jalur promosi secara on-line dan offline untuk semakin dikenal luas.

Jika kita juga seorang pemilik kedai kopi, tentu sangat masuk akal untuk mengikuti tren ini agar produk kita lebih diminati. Tapi, semua gimmick juga harus sejalan dengan produk utama kita, yang di sini adalah nasi uduk. Jangan sampai gimmick justru menciderai nilai-nilai luhur yang direpresentasikan oleh nasi uduk. Pertama, untuk pengembangan produk, kita butuh knowledge perilaku masyarakat dari kalangan sekitar dan terdekat kita. Lalu, jadikan produk kita ini sebagai solusi untuk kebutuhan masyarakat dan pelanggan kita. Kita juga butuh information berupa review, testimoni, dan kepuasaan pelanggan untuk dibagikan di media sosial sebagai promosi produk.